OPINI: SEMANGAT KARTINI DALAM FILOSOFI “SI TOU TIMOU TUMOU TOU” Oleh: Franky L Lombogia
Manado – Menyambut Hari Kartini pada 21 April 2026 lalu, tokoh masyarakat Minahasa Dr. Charles P.N. Rembang, SPsi., M.Pd., M.Th., CBA., CMTr., CPPS., mengaitkan semboyan abadi R.A. Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” dengan filosofi luhur Minahasa “Si Tou Timou Tumou Tou”. Keduanya ia pandang sebagai seruan yang sejiwa: masa depan cerah hanya lahir dari keberanian meninggalkan kegelapan dan kerja nyata memanusiakan sesama.
Menurut Charles Rembang, “Habis Gelap Terbitlah Terang” mengandung makna mendalam tentang keyakinan. Harapan dan masa depan yang cerah harus diperjuangkan dengan keuletan dan ketabahan. Kita dituntut berani meninggalkan segala bentuk “kegelapan” yang menyengsarakan bangsa: kebodohan, kemiskinan, penindasan, keserakahan, diskriminasi, serta keegoisan yang menghambat kemajuan.
Di sinilah relevansi filosofi “Si Tou Timou Tumou Tou” yang berarti “Manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain”. Bagi Charles Rembang, Ketua Harian Markas Cabang Laskar Merah Putih Kota Manado, implementasi filosofi ini menjadi jalan utama untuk mewujudkan “terang” tersebut. Ia mengajarkan kita untuk saling mengangkat, membangun, dan memajukan sesama demi terciptanya kehidupan yang lebih adil dan sejahtera. Terang tidak akan terbit jika kita masih berjalan sendiri.
Semangat perjuangan itu, lanjut Charles Rembang, kini direpresentasikan oleh banyak perempuan Minahasa. Salah satunya Senator Dr. Maya Rumantir, MA., Ph.D. Kepercayaan rakyat Sulawesi Utara kepada beliau menunjukkan bahwa perempuan Indonesia modern mampu hadir menyingkirkan hal-hal buruk dan menghadirkan kemajuan, pencerahan, serta kesejahteraan bagi masyarakat luas, selaras dengan cita-cita luhur Ibu Kartini.
Jika Kartini telah menyalakan lentera emansipasi bagi bangsa, maka “Si Tou Timou Tumou Tou” adalah minyak yang menjaga agar api itu tidak pernah padam. Karena itu, memperingati Hari Kartini tidak cukup dengan seremonial. Ia harus diwujudkan dengan komitmen memanusiakan manusia, seperti yang diajarkan leluhur Minahasa dan diperjuangkan Kartini.
Soli Deo Gloria
Penulis:
Franky Lorens Lombogia
Pemerhati Sosial dan Budaya
